ID RealitaMusim kemarau mulai dirasakan masyarakat di sejumlah wilayah Kabupaten Rembang. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Rembang mencatat tujuh desa dan dua kelurahan telah mengajukan bantuan air bersih.

Kondisi tersebut menjadi perhatian BPBD karena kebutuhan air bersih masyarakat mulai meningkat seiring berlanjutnya musim kemarau. Selain permukiman, permintaan bantuan juga datang dari lingkungan pendidikan.

Sekretaris BPBD Kabupaten Rembang, M. Luthfi Hakim, mengatakan pengajuan bantuan tidak hanya berasal dari desa dan kelurahan, tetapi juga sejumlah perumahan serta SMP Negeri 3 Kragan.

“Bukan hanya dari desa, beberapa perumahan dan SMPN 3 Kragan juga mengajukan bantuan air bersih untuk menunjang kegiatan wudhu di lingkungan sekolah,” ujar Luthfi, Kamis (27/8/2024).

Menurut Luthfi, pengajuan bantuan air bersih dari desa telah berlangsung sekitar satu bulan terakhir. Desa Logung menjadi salah satu wilayah yang lebih awal mengajukan permintaan bantuan.

Seiring musim kemarau yang masih berlangsung, permohonan bantuan kemudian bertambah dari wilayah lainnya. BPBD pun mulai menyiapkan langkah penanganan untuk memastikan kebutuhan air bersih masyarakat dapat terpenuhi.

Saat ini, BPBD Rembang tengah mempercepat penyelesaian administrasi dan regulasi yang menjadi dasar pelaksanaan penanganan kekeringan. Setelah seluruh proses tersebut selesai, distribusi air bersih akan segera dilakukan.

“Begitu regulasinya selesai, penyaluran bantuan akan segera kami laksanakan agar kebutuhan masyarakat dapat segera terpenuhi,” jelasnya.

Untuk mendukung kegiatan dropping air bersih, BPBD Kabupaten Rembang telah menyiapkan anggaran sebesar Rp75 juta. Anggaran tersebut dialokasikan khusus untuk membantu memenuhi kebutuhan air bersih di wilayah yang mengajukan bantuan.

BPBD juga membuka peluang kolaborasi dengan berbagai pihak, mulai dari perusahaan, BUMN, BUMD, organisasi sosial hingga forum masyarakat. Kerja sama tersebut diperlukan apabila permintaan air bersih terus meningkat dan jangkauan bantuan perlu diperluas.

Di sisi lain, masyarakat diimbau mulai menghemat penggunaan air selama musim kemarau. BPBD juga meminta sektor pertanian menyesuaikan pola tanam dengan kondisi ketersediaan air.

“Yang pasti mulai menghemat air. Untuk pertanian juga menanam tanaman yang tahan dalam kondisi minim air,” ujar Luthfi.

Selain persoalan ketersediaan air, BPBD mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran lahan dan lingkungan yang biasanya meningkat saat musim kemarau.

Masyarakat diminta tidak membuka lahan dengan cara membakar serta tidak membakar sampah secara sembarangan. Jika pembakaran dilakukan, pengawasan harus dilakukan secara ketat untuk mencegah api merembet ke area lain.

“Jika melakukan pembakaran, harus diawasi dengan ketat dan dipastikan tidak menimbulkan api yang merambat ke area lain,” tegas Luthfi.

BPBD Rembang memastikan pemantauan dampak musim kemarau terus dilakukan. Penyaluran bantuan air bersih akan disesuaikan dengan kebutuhan dan perkembangan kondisi di wilayah yang terdampak.

Dapatkan fakta pertama dan update berita harian langsung di ponsel Anda melalui Saluran Resmi ID Realita Sekarang .