ID Realita – Indonesia tidak harus menjadi negara pembuat model kecerdasan artifisial (AI) paling canggih di dunia untuk mengambil peran dalam persaingan teknologi global. Pemerintah menilai kemampuan memanfaatkan AI untuk meningkatkan produktivitas, mempercepat layanan publik, dan menjawab kebutuhan masyarakat justru menjadi peluang strategis bagi Indonesia.

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria mengatakan, pengembangan model AI terdepan saat ini masih didominasi Amerika Serikat dan Tiongkok. Kedua negara tersebut memiliki konsentrasi modal, talenta, cip, serta dukungan energi dalam skala besar.

Pernyataan itu disampaikan Nezar dalam acara Pelatihan AI Value Chain: Indonesia’s Strategy in the AI Supply Chain as a Middle Power yang diikuti secara daring dari Jakarta Pusat, di kutip Senin (2/11/2026).

“Indonesia tidak akan membangun model AI paling canggih di dunia, tidak dalam dekade ini, dan kemungkinan besar tidak juga pada dekade berikutnya,” ujarnya.

Menurut Nezar, kondisi tersebut tidak berarti Indonesia kehilangan kesempatan untuk menjadi pemain penting dalam industri AI. Indonesia justru perlu memaksimalkan pemanfaatan teknologi yang telah tersedia untuk mempercepat transformasi pemerintahan, perekonomian, dan kehidupan masyarakat.

“Kita perlu untuk memanfaatkan model-model terbaik di dunia untuk mentransformasi pemerintahan, perekonomian, dan kehidupan masyarakat kita lebih cepat daripada negara lain,” katanya.

Namun, Nezar mengingatkan agar Indonesia tidak hanya menjadi pelanggan layanan teknologi asing. Ketergantungan pada penyedia luar negeri berisiko menimbulkan persoalan ketika terjadi kenaikan harga, perubahan prioritas penyedia komputasi, atau pembatasan akses terhadap infrastruktur teknologi.

Karena itu, Indonesia perlu memperkuat posisi tawar melalui pembangunan infrastruktur komputasi lokal, pengaturan akses pasar, serta kerja sama internasional.

“Indonesia tidak boleh memosisikan diri hanya sebagai pelanggan. Kita harus bertindak sebagai mitra setara (counterparty) yang memiliki daya tawar nyata untuk menjamin akses jangka panjang,” tegasnya.

Nezar menyebut Indonesia memiliki dua modal utama dalam rantai pasok AI global, yakni sumber daya mineral kritis dan pasar pengguna dengan populasi hampir 290 juta jiwa. Kedua potensi tersebut perlu dikembangkan menjadi nilai tambah ekonomi melalui penguatan industri pengolahan, manufaktur, dan integrasi teknologi.

Kerja sama dengan negara yang memiliki keunggulan teknologi semikonduktor, termasuk Jepang dan Korea Selatan, juga dinilai penting untuk memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global.

“Nilai tambah muncul saat kecerdasan bertemu dengan dunia fisik melalui pemrosesan, manufaktur, dan integrasi,” jelasnya.

Selain aspek industri, Nezar menekankan pentingnya keberlanjutan lingkungan dalam pembangunan infrastruktur AI. Pusat data, misalnya, membutuhkan pasokan listrik, air, dan lahan dalam jumlah besar. Oleh karena itu, investasi teknologi perlu memperhatikan tata kelola serta dampaknya terhadap masyarakat sekitar.

Ia juga mengingatkan bahwa perkembangan AI berpotensi mengubah lapangan kerja, terutama pada pekerjaan rutin di sektor jasa. Pemerintah perlu menyiapkan strategi ekonomi agar masyarakat dapat menghadapi perubahan tersebut.

Nezar menegaskan, keberhasilan Indonesia di era AI tidak hanya diukur dari kemampuan menciptakan teknologi tercanggih, tetapi juga dari kecakapan memanfaatkannya, membangun kemitraan global, dan mengelola dampaknya secara bertanggung jawab.

“Indonesia mungkin tidak akan memenangkan perlombaan untuk membangun model AI terbesar, namun kita bisa memenangkan perlombaan untuk membangun negara yang paling cakap, mitra yang paling kredibel, serta tuan rumah yang paling bertanggung jawab di era AI,” pungkasnya.

Dapatkan fakta pertama dan update berita harian langsung di ponsel Anda melalui Saluran Resmi ID Realita Sekarang .