ID Realita – Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menegaskan bahwa polusi udara merupakan masalah lingkungan serius. Masalah ini memberikan dampak polusi udara bagi kesehatan manusia secara langsung. Menurut Menkes, terdapat sejumlah penyakit respirasi dengan prevalensi tinggi yang muncul akibat buruknya kualitas udara.

Budi menyampaikan keterangan tertulis tersebut pada Selasa (03/04/2023). Ia merujuk pada data Global Burden Diseases 2019 yang mencatat lima penyakit respirasi sebagai penyebab kematian tertinggi di dunia. Penyakit tersebut meliputi Paru Obstruktif Kronis (PPOK), pneumonia, kanker paru, tuberkulosis, dan asma.

Data Kematian Akibat Penyakit Paru di Indonesia

Kondisi kesehatan respirasi di Indonesia saat ini cukup memprihatinkan. Dari 10 penyakit dengan kasus terbanyak, empat di antaranya merupakan penyakit pernapasan. Data menunjukkan PPOK mencatatkan 145 ribu kejadian dengan 78,3 ribu kematian. Sementara itu, kanker paru menyebabkan 28,6 ribu kematian dari 18 ribu kejadian.

Pneumonia juga menjadi ancaman besar dengan 52,5 ribu kematian. Penyakit asma menyusul dengan angka 27,6 ribu kematian. Dampak polusi udara bagi kesehatan ini memiliki faktor risiko yang bervariasi. PPOK memiliki risiko sebesar 36,6 persen, sedangkan pneumonia mencapai 32 persen.

Selain merenggut nyawa, penyakit ini memberikan tekanan besar pada anggaran BPJS Kesehatan. Selama periode 2018-2022, pemerintah mengeluarkan biaya pengobatan yang sangat fantastis. Pneumonia menelan biaya Rp8,7 triliun, sedangkan tuberkulosis menghabiskan Rp5,2 triliun. Anggaran untuk PPOK, asma, dan kanker paru juga mencapai angka miliaran hingga triliunan rupiah.

Pemerintah Dorong Upaya Pencegahan Lintas Sektor

Menkes Budi menyebutkan ada empat faktor risiko utama penyakit paru. Faktor tersebut meliputi polusi udara, riwayat merokok, infeksi berulang, dan genetik. Dari keempat faktor itu, polusi udara menyumbang kontribusi sebesar 15 hingga 30 persen. Kementerian Kesehatan RI terus mendorong upaya preventif untuk melindungi masyarakat.

“Upaya ini melibatkan lintas sektor karena polusi adalah permasalahan lingkungan bersama,” ujar Budi. Ia berharap generasi masa depan tetap dapat menghirup udara segar agar tumbuh kembang mereka berjalan optimal.

Senada dengan Menkes, Prof. dr. Agus Dwi Susanto menekankan pentingnya penurunan tingkat polusi. Ketua Perhimpunan Dokter Paru Indonesia ini menilai semua pihak harus memahami standar kualitas udara yang baik. Menurutnya, kerja sama semua elemen menjadi kunci utama untuk mengurangi kasus respirasi di Indonesia.

Sinergi Masyarakat untuk Udara Bersih

Co-Founder Bicara Udara, Novita Natalia, turut mengajak masyarakat untuk peduli pada kualitas lingkungan. Ia memandang situasi ini sebagai panggilan bagi semua pihak untuk meningkatkan kesadaran akan udara bersih. Sinergi antara pemerintah dan masyarakat sangat penting dalam menciptakan kehidupan yang lebih sehat.

Saat ini, pemerintah bersama berbagai komunitas terus menyusun langkah pencegahan krisis polusi udara perkotaan. Semua pihak berharap kebijakan penegakan udara bersih di Indonesia dapat berjalan lebih tegas demi hak kesehatan seluruh warga.

Dapatkan fakta pertama dan update berita harian langsung di ponsel Anda melalui Saluran Resmi ID Realita Sekarang .