ID Realita – Masjid Raya Sheikh Zayed Solo kini berdiri megah sebagai monumen keagamaan di Kota Surakarta, Jawa Tengah. Bangunan ini bukan sekadar tempat ibadah, melainkan simbol persahabatan dan toleransi lintas budaya yang sangat kuat. Terletak di Jalan Ahmad Yani, Gilingan, masjid ini juga menjadi pusat kegiatan bagi komunitas Muslim di sekitarnya.

Pemerintah Indonesia dan Uni Emirat Arab (UEA) bekerja sama mendirikan masjid ini. Tujuannya, mereka ingin mempromosikan persatuan serta keberagaman budaya dan agama. Wakil Direktur Operasional Masjid, Bagus Sigit Setiawan, menekankan betapa pentingnya nilai toleransi dalam setiap jengkal pembangunan masjid tersebut.

“Masjid ini mempererat hubungan antarnegara sekaligus menjadi titik temu orang dari berbagai latar belakang. Dengan demikian, tercipta dialog dan pemahaman lintas budaya yang mendalam,” ujar Bagus dalam acara bedah buku di pelataran masjid, Sabtu (30/3/2024).

Akulturasi Arsitektur dan Inklusi

Selain itu, pengelola masjid secara rutin menyelenggarakan kajian mengenai hubungan agama dan budaya di perpustakaan. Kegiatan ini melibatkan berbagai pihak, termasuk kelompok lintas agama. Masjid ini membuktikan bahwa arsitektur dan persahabatan internasional dapat menyatukan keindahan spiritual dalam satu wadah.

Bangunan seluas 8.000 meter persegi ini sebenarnya merupakan replika dari Sheikh Zayed Grand Mosque di Abu Dhabi. Meskipun demikian, tim pembangun tetap memasukkan unsur arsitektur lokal. Sebagai contoh, mereka menghiasi lantai utama dengan ukiran batik khas Solo yang sangat detail.

Masjid ini memiliki fasilitas yang sangat lengkap dan ramah bagi difabel, anak-anak, serta ibu hamil. Pengelola menyediakan lift khusus untuk memudahkan aksesibilitas menuju tempat wudu. Bahkan, petugas keamanan selalu mengawasi area tersebut guna menjamin kenyamanan jemaah.

Inovasi Digital dan Dampak Wisata

Menariknya, Masjid Raya Sheikh Zayed Solo berhasil bernegosiasi dengan Pemerintah UEA terkait sistem donasi. Kini, jemaah dapat berinfak secara digital menggunakan QRIS maupun konvensional. Pada awalnya, pihak UEA sempat menolak konsep ini. Namun, mereka akhirnya setuju setelah memahami bahwa kotak infak tersebut murni untuk memudahkan sedekah jemaah.

Unit Pengelola Zakat dari BAZNAS provinsi kemudian mengelola dana infak tersebut secara profesional. Selanjutnya, mereka menyalurkan kembali dana tersebut kepada masyarakat melalui program pemberdayaan. Contohnya adalah kegiatan TPA, pengajian kitab, hingga pembagian takjil gratis setiap bulan Ramadan.

“Kami ingin masjid ini menjadi teladan bagi masjid lainnya. Terutama dalam hal keberagaman dan pemanfaatan teknologi untuk melayani umat,” tandas Bagus.

Pada akhirnya, keberadaan masjid ini membawa dampak besar bagi sektor pariwisata. Dinas Pariwisata Solo mencatat lebih dari tiga juta orang mengunjungi masjid ini pada tahun 2023. Angka tersebut menjadikan Masjid Sheikh Zayed sebagai kontributor utama dalam menggerakkan ekonomi kreatif di Kota Solo.