ID Realita – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI resmi mengembangkan pelayanan kanker di Indonesia melalui teknologi terapi proton. Untuk mewujudkan hal tersebut, Kemenkes menggandeng Medipolis Medical Research Institute dari Jepang dalam bidang Onkologi Radiasi. Kerja sama strategis ini bertujuan untuk menghadirkan teknologi pengobatan paling mutakhir bagi masyarakat Indonesia.

Kedua pihak menyepakati kemitraan tersebut melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) di Gedung Kemenkes, Jakarta, Kamis, 8 Juni 2023. Selanjutnya, RS Kanker Dharmais akan menjadi pusat penerapan teknologi canggih ini bagi pasien di tanah air. Langkah ini menandai babak baru dalam sejarah pengobatan kanker nasional yang lebih profesional dan modern.

“MoU ini bertujuan membangun struktur dasar pengobatan dan layanan kanker melalui terapi proton,” ujar Wakil Menteri Kesehatan Prof. Dante Saksono Harbuwono, Jumat, 9 Juni 2023. Selain itu, ia berharap kerja sama ini dapat meningkatkan kualitas riset medis di Indonesia.

Teknologi Energi Partikel yang Akurat

Oleh karena itu, kedua belah pihak sepakat memajukan ilmu kesehatan serta kapasitas pengobatan kanker. Berbeda dengan radioterapi konvensional, terapi proton memanfaatkan energi partikel khusus yang sangat kuat. Teknologi ini menggunakan alat akselerator dengan sinkronisasi tinggi. Mesin tersebut mampu mempercepat partikel hingga mendekati kecepatan cahaya sebelum menembak ke arah tumor.

Bahkan, energi partikel tersebut sangat efektif untuk membunuh sel kanker secara akurat tanpa melukai organ lain. Sementara itu, Direktur Medis Internasional Medipolis, Kotaro Tanaka, menjelaskan keunggulan utama sinar proton tersebut. Menurutnya, sinar proton memiliki kemampuan fokus yang sangat tinggi untuk menghancurkan lesi kanker yang sulit dijangkau.

Minimalkan Efek Samping bagi Pasien

Selain itu, teknologi ini memberikan dampak minimal pada jaringan sehat di sekitar area kanker. “Dengan demikian, terapi proton mampu meminimalkan efek buruk pada organ tubuh lainnya yang masih berfungsi baik,” ucap Kotaro. Hal ini sangat menguntungkan bagi pasien yang menjalani pengobatan jangka panjang.

Sebab, karakteristik utama terapi proton adalah terciptanya Bragg Peak. Fenomena fisika ini memicu kerusakan yang terkonsentrasi hanya pada titik sel kanker saja. Sebaliknya, teknologi sinar-X biasa sering kali mengenai jaringan sehat di sepanjang jalur sinar tersebut. Oleh sebab itu, Kemenkes optimis bahwa kehadiran terapi ini akan mengurangi risiko komplikasi pasca-pengobatan secara signifikan.

Masa Depan Pengobatan Kanker Nasional

Selanjutnya, pemerintah ingin menjadikan RS Kanker Dharmais sebagai rujukan utama di kawasan Asia Tenggara. Dengan adanya dukungan teknologi dari Jepang, tenaga medis lokal akan mendapatkan pelatihan khusus untuk mengoperasikan alat proton tersebut. Akhirnya, inovasi besar ini diharapkan mampu meningkatkan angka harapan hidup pasien kanker di Indonesia melalui metode yang lebih aman, tepat sasaran, dan berstandar internasional.