ID Realita – Indonesia kini mulai serius melirik beragam energi alternatif sebagai tumpuan masa depan. Langkah ini bertujuan mengurangi ketergantungan pada energi fosil yang kian terbatas.

Kehadiran sumber energi baru terbarukan (EBT) bakal segera mengakhiri dominasi bahan bakar konvensional. Selain lebih ramah lingkungan, pemanfaatan sumber daya alam ini juga terbukti lebih efisien bagi ketahanan energi nasional.

Transformasi menuju energi hijau ini memberikan keuntungan ganda, baik dari sisi ekologi maupun ekonomi. Pasalnya, teknologi EBT menawarkan biaya operasional yang jauh lebih murah daripada sumber daya berbasis karbon.

Upaya tersebut sejalan dengan langkah PLN dan lintas kementerian kolaborasi kebut implementasi transisi energi di Tanah Air. Pemerintah ingin menciptakan sistem kemandirian energi yang lebih berkelanjutan bagi generasi mendatang.

Efisiensi Biaya dan Kemandirian Energi

Pemanfaatan bahan bakar hidrogen di Tanah Air memasuki babak baru pasca-peresmian Pilot Project Hydrogen Refueling Station (HRS) di Senayan, Jakarta. Langkah nyata ini membuktikan bahwa hidrogen jauh lebih hemat daripada bahan bakar fosil.

Direktur Utama PT PLN (Persero), Darmawan Prasodjo, mengungkapkan perbandingan biaya operasional yang mencolok antara kedua jenis energi tersebut. Data internal perusahaan menunjukkan bahwa penggunaan BBM menelan biaya sekitar Rp1.300 per kilometer.

Angka ini jauh lebih tinggi jika kita bandingkan dengan penggunaan EV home charging yang berkisar Rp350 hingga Rp400 per kilometer. Sementara itu, dengan hidrogen, masyarakat hanya perlu mengeluarkan biaya operasional sekitar Rp276 per kilometer.

Target Penurunan Emisi Nasional

Selain aspek biaya, penggunaan hidrogen turut memperkuat kedaulatan ekonomi. Selama ini, impor masih mendominasi pemenuhan konsumsi BBM dalam negeri sehingga membebani devisa negara.

Sebaliknya, Indonesia mampu memproduksi hidrogen sepenuhnya menggunakan sumber daya lokal dengan tingkat emisi nol. Sebagai gambaran, penggunaan satu liter BBM menghasilkan emisi sekitar 2,4 kilogram.

Sementara itu, penggunaan green hydrogen sama sekali tidak meninggalkan jejak karbon yang mencemari udara. PLN memproyeksikan produksi hidrogen sebesar 128 ton per tahun mampu memenuhi kebutuhan energi bagi ratusan unit kendaraan di masa depan.

Senior Manager PLN Nusantara Power Up Muara Karang, Maryono, menegaskan bahwa hidrogen adalah pilar utama Energi Baru Terbarukan untuk masa depan. Ia menjelaskan bahwa mobil berbahan bakar hidrogen hanya akan melepaskan air melalui saluran pembuangan.

Oleh karena itu, teknologi ini menjadi pilihan penting untuk menjaga kelestarian lingkungan Indonesia. Melalui komitmen bersama, transisi ke energi bersih kini menjadi kenyataan yang tengah diwujudkan oleh pemerintah dan PLN.

Dapatkan fakta pertama dan update berita harian langsung di ponsel Anda melalui Saluran Resmi ID Realita Sekarang .