ID Realita – Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) menjalin kolaborasi strategis dengan Bursa Efek Indonesia (BEI). Sebagai wujud nyata, mereka menggelar kegiatan bertajuk “Bincang Pasar Modal” di Kota Bekasi. Agenda ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman pelaku usaha pariwisata tentang skema Initial Public Offering (IPO).
Kota Bekasi menjadi lokasi kedua dalam rangkaian kegiatan edukasi ini. Melalui program tersebut, pemerintah ingin memberikan inspirasi kepada perusahaan sektor ekonomi kreatif (parekraf). Fokus utamanya adalah memperkenalkan cara menghimpun modal melalui pasar saham secara profesional.
Direktur Akses Pembiayaan Kemenparekraf, Anggara Hayun Anujuprana, menilai potensi pelaku usaha parekraf sangat tinggi. Pasalnya, data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) menunjukkan lonjakan jumlah investor yang sangat signifikan. Per Desember 2022, jumlah investor ritel telah menembus angka 10,31 juta orang.
IPO Bukanlah Garis Finis
“Kami berharap peluang ini mampu mendorong pelaku usaha untuk segera melantai di Bursa Efek Indonesia,” ujar Hayun dalam keterangan tertulisnya, Jumat (14/04/2023). Selain itu, ia menekankan bahwa skema IPO dapat mempercepat akselerasi bisnis para pelaku kreatif di tanah air.
Senada dengan hal tersebut, Head of IDX Incubator, Aditya Nugraha, menjelaskan sudut pandang yang berbeda mengenai IPO. Menurutnya, IPO bukanlah garis finis dalam mencari pendanaan perusahaan. Sebaliknya, momen tersebut justru merupakan titik awal (start point) bagi pertumbuhan bisnis yang lebih besar.
“Perusahaan dapat terus menghimpun dana setelah IPO. Caranya bisa melalui penerbitan saham baru atau private placement,” jelas Aditya. Lebih lanjut, ia menyebut IPO bermanfaat untuk meningkatkan citra perusahaan dan mempercepat tata kelola yang baik (GCG).
Strategi Menembus Pasar Modal
Komisaris Utama PT Taurindo Guide Indonesia Tbk (Pigijo), Claudia, turut membagikan pengalamannya. Ia mengungkapkan lima kunci utama agar pelaku usaha sukses melakukan IPO. Pertama, perusahaan harus memiliki strategi bisnis yang gesit. Kedua, pengusaha perlu memperhatikan momentum atau timing pasar yang tepat.
Selanjutnya, poin penting lainnya adalah memiliki tim penunjang profesi, narasi bisnis yang kuat (equity story), serta jaringan (networking) yang luas. Claudia juga menegaskan bahwa ukuran perusahaan tidak menjadi penghalang untuk melantai di bursa.
“Perusahaan kecil dengan karyawan kurang dari sembilan orang pun bisa melakukan IPO. Hal ini karena pemerintah kini menyediakan papan akselerasi bagi para pelaku usaha kecil dan menengah,” ungkap Claudia.
Pada akhirnya, kegiatan ini diharapkan mampu memperkuat struktur modal industri kreatif di Bekasi. Acara tersebut turut dihadiri oleh Kepala Dinas Pariwisata Kota Bekasi, Abu Hurairah, serta pakar ekonomi, Ki Saur Panjaitan XIII.
