ID Realita – Kementerian Koperasi dan UKM (KemenKopUKM) terus memperkuat kapasitas UMKM nasional. Salah satu langkah strategisnya adalah melalui program Kredit Usaha Rakyat (KUR) Klaster Berbasis Rantai Pasok. Program ini bertujuan untuk mewujudkan ekonomi kerakyatan yang lebih tangguh dan mandiri.
Menteri Koperasi dan UKM, Teten Masduki, menjelaskan bahwa skema ini merupakan terobosan besar Pemerintah. Fokusnya adalah meningkatkan peran ekonomi rakyat sebagai mesin utama pertumbuhan nasional. Dalam hal ini, penyaluran pembiayaan bergeser dari sektor perdagangan menuju sektor produksi yang lebih produktif.
“Kami mencari terobosan agar penyaluran KUR lebih bervariasi. Tahun ini, Pemerintah menargetkan penyaluran KUR sebesar Rp460 triliun,” ujar Teten dalam keterangan persnya, Kamis (13/04/2023).
Menekan Risiko Kredit Macet
Teten menyadari bahwa risiko kredit macet atau Non Performing Loan (NPL) sering kali membebani perbankan. Namun demikian, skema KUR Klaster hadir untuk meminimalkan risiko tersebut. Skema ini menghubungkan UMKM secara langsung dengan pembeli siaga (off-taker) dalam rantai pasok industri.
Pola ini mengadopsi keberhasilan UMKM di Jepang, Korea Selatan, dan China. Di negara-negara tersebut, penyaluran kredit perbankan untuk UMKM bahkan bisa melebihi 60 persen. Sebagai contoh, Korea Selatan mencatatkan angka 81 persen karena UMKM di sana terintegrasi dengan industri bahan setengah jadi.
“UMKM di sana memiliki kepastian pasar. Inilah ekosistem yang sedang kami bangun di Indonesia,” tambah Teten. Selain itu, KemenKopUKM mengusulkan agar OJK mempertimbangkan metode penilaian kredit di luar agunan konvensional. Pasalnya, tidak semua pelaku usaha kecil memiliki aset yang dapat mereka jaminkan.
Plafon Besar dan Kepastian Pasar
KUR Klaster menawarkan plafon pinjaman yang cukup besar, yakni mencapai Rp500 juta per debitur. Program ini menyasar kelompok usaha di bidang pertanian, perikanan, hingga industri pengolahan lokal. Dengan berkelompok, perbankan akan lebih mudah melakukan pengawasan dari hulu hingga hilir.
“Pelaku UMKM dalam klaster memiliki kepastian pembeli. Hal ini membuat potensi kredit macet menjadi rendah,” kata Teten. Saat ini, Pemerintah tengah melakukan uji coba di beberapa sektor strategis untuk memudahkan akses modal tersebut.
Realisasi dan Kerja Sama Mitra
Lebih lanjut, program ini telah menggandeng sejumlah mitra besar sebagai off-taker. Perusahaan seperti PT Sido Muncul, PT Bintang Toedjoe, hingga Erajaya Group telah bergabung dalam ekosistem ini. Hingga saat ini, realisasi KUR Klaster sudah mencapai Rp538,7 miliar yang tersebar kepada 5.310 UMKM di 50 klaster.
Pada akhirnya, Teten berharap lembaga keuangan terus memperluas jangkauan skema ini. Target berikutnya adalah menyalurkan dana sebesar Rp1,34 triliun kepada lebih dari 15 ribu anggota UMKM di seluruh Indonesia. Dengan dukungan teknologi digital, perbankan diharapkan tidak perlu lagi merasa khawatir dalam menyalurkan pinjaman.
